wanita tua itu membereskan kembali pecahan gelas yang terjatuh di lantai dengan perasaan yang sangat sedih dan terluka, ini semua terjadi karena anak perempuannya yang bernama Putri, Putri merupakan anak satu-satunya dari wanita itu. Indah rupanya, cantik wajahnya, namun buruk akhlaknya. Semenjak ditinggal pergi oleh ayahnya untuk selamanya, sikap Putri berubah secara drastis semenjak itu, dia menjadi nakal dan pemarah, ibunya tidak tau lagi harus bagaimana menghadapinya, sudah berbagai cara dia lakukan, namun itu hanya membuat dirinya semakin sakit akan sikap anaknya, dan ini merupakan kesesekian kalinya Putri membuat ibunya sedih.
“ibu…., buu…., bagi duit buu”
teriak Putri sambil mencari ibunya, ibunya yang sedang makan pun terkejut
mendengar suara Putri, saat hendak berdiri, Putri pun sudah berada di hadapan ibunya,
dan tanpa berkata-kata, Putri langsung menarik dompet ibunya, dengan refleks,
ibunya pun berusaha untuk mempertahankan dompetnya dengan sekuat tenaga, namun
apadaya, tubuhnya yang lemah dan renta dan tidak kuat seperti dulu lagi, tidak
mampu menahan tarikan dari putri, yang
akhirnya ibu itu pun terjatuh dan secara tidak sengaja memecahkan gelas yang
berada di meja. Setelah mendapatkan dompet ibunya tersebut, tanpa ada rasa
bersalah sama sekali, Putri pun langsung pergi meninggalkan ibunya yang sedang
kesakitan itu, wanita tua itu hanya bisa meratapi apa yang terjadi denganya
barusan tadi, semua uang hasil jualannya seharian sekarang sudah habis tak
tersisa, dan ini semua dilakukan oleh anak kesayanganya sendiri.
Setelah berhasil mendapatkan apa
yang dia inginkan, putri pun langsung pergi menuju sebuah tempat yang cukup
jauh dari rumahnya, disana sudah terlihat Dino, Eka, Shinta, dan Rio, yang tak
lain merupakan anak jalanan yang sering berkumpul di tempat tersebuT, entah apa
yang membuat putri bisa mempunyai teman-teman seperti mereka. Putri pun
langsung menghampiri teman-temannya itu, “wey put, mana uangnya”, kata Shinta,
sesaat setelah Putri datang menghampiri mereka, “tenang aja, hari ini kita bisa
jajan, hahahah”, sahut Putri, dengan perasaan yang gembira. Akhirnya mereka pun
menggunakan uang itu untuk membeli rokok dan minuman yang memabukan, “weyy put,
minum nih, jarang-jarang lu minum beginian”, kata Eka dengan santainya, sambil menyodorkan
sebotol minuman, yang tak lain adalah minuman memabukan, Putri berusaha untuk
menolaknya, namun karena terus di paksa oleh keempat temanya itu, Putri pun
terhasut akan teman-temanya, dan putri meminum minuman itu.
Disisi lain, Ibu dari Putri mulai
khawatir akan keadaan Putri, karena tidak seperti biasanya Putri belum pulang,
sedangkan adzan magh’rib sudah berkumandang 30 menit yang lalu, perasaan
gelisah semakin menyelimuti wanita tua itu, karena tidak ingin semakin khawatir
akan keadaan anaknya ini, wanita tua itu pun keluar untuk mencari Putri, wajah
penuh kekhawatiran terlihat di wajah wanita tua itu, dengan sebuah payung di
genggamanya dan rintik-rintik hujan yang terus membasahi dirinya dan sesekali
mengenai wajah seorang wanita yang seharusnya bisa menikmati kebahagian di masa
tuanya ini, dia terus menyusuri kegelapan malam demi bertemu buah hatinya yang
sangat ia sayangi.
“wey…no, si Putri kayanya udah
mabuk tuh, kesempatan nih” kata Rio kepada Dino, dengan tatapan tajam yang
mengarah kepada Putri, “wah boleh juga tuh yo, mumpung si Eka sama si Shinta
lagi pergi keluar, mendingan kita sikat aja nih si Putri” kata Dino. Entah apa
yang ada dipikiran kedua pemuda itu, tetapi Niat jahat sepertinya sudah merasuki kedua
pria mabuk tersebut, tanpa pikir panjang, mereka pun langsung berusaha untuk melecehkan
Putri, Putri yang dalam keadaan setengah sadar, berusaha untuk melawan kedua
Pemuda tersebut, namun apadaya, tenaga kedua pemuda tersebut jauh lebih kuat
dibanding tenaga Putri yang seorang diri, Putri pun berusaha teriak sekencang-kencangnya.
Karena tidak ingin aksinya ketahuan orang lain, Dino pun memukul kepala putri
sekencang-kencangnya hingga dia pingsan.
Matahari mulai menampakkan
wujudnya, sinarnya mulai menyinari bumi, dan membuat sebagian orang terbangun
dari lelapnya. “hmm, dimana aku sekarang”, kata yang pertama kali keluar dari
mulut putri saat dia terbangun, “Kamu berada di rumahku, tenang saja kamu aman
disini”, sahut seorang lelaki muda, lelaki itu kemudian membawakan secangkir
teh hangat untuk Putri, “ini minum dulu”, kata lelaki itu, Putri pun menuruti
perkataan lelaki itu dan meminumnya, “kamu siapa?”, Tanya Putri kepada lelaki
itu, lelaki itu hanya tersenyum kepadanya, senyumnya sungguh menenangkan,
seakan oase di tengah padang pasir. “sudah sekarang kamu jangan banyak bicara,
kamu harus banyak-banyak istirahat-istirahat”, kata lelaki itu kepada Putri,
kemudian lelaki itu pun berlalu meninggalkan Putri sendirian, Putri semakin
penasaran dengan lelaki itu, putri pun berusaha untuk bangun dari tempat
tidurnya, namun kepalanya sangat sakit, sehingga Putri memutuskan untuk tetap berbaring
di Kasur, kemudian Putri melihat kesekelilingnya, dan pandanganya tertuju pada
sebuah foto, di foto tersebut, putri melihat seorang anak dan seorang wanita
yang kemungkinan adalah ibu dari anak itu.
“hey, sedang apa”, sahut lelaki
tadi, mengagetkan Putri, “oh nggak, Cuma lagi ngeliat sekeliling kamar ini aja”,
kata Putri, lelaki itu pun berjalan menuju Putri, sambil membawa semangkuk
bubur yang terlihat masih hangat, “ini makan dulu” kata lelaki itu, “emm iya,
eh aku kenapa sih bisa sampai ada dirumah kamu”, kata Putri kepada lelaki itu,
pria itu pun langsung menjawab pertanyaan putri, “jadi begini, kemarin selepas
aku menunaikan sholat isya dari masjid, saat aku hendak pulang, aku mendengar
suara teriakan, setelah aku cari dimana suara itu berasal, dan ternyata itu
adalah suara kamu, pada saat aku mendatangi kamu, kamu sudah terlihat pingsan
dan lebih terkejutnya aku, karena ada dua orang pemuda yang hendak memperkosa
kamu, melihat itu, aku langsung berusaha untuk menyelamatkan kamu, kebetulan
karena kedua pria itu sedang mabuk, jadi aku tidak kesulitan untuk menolong
kamu, dan karena sudah malam, aku pun membawa kamu kerumahku”, setelah
mendengar penjelasan dari pria tadi, perasaan Putri menjadi lebih tenang, “oh
ya, namaku Putri, nama kamu siapa”, Tanya putri, “namaku Dandy”, jawab lelaki
itu, “oh ya, sekarang sudah waktu dzuhur, ayu kita sholat, kamu bisa bangun
kan”, kata lelaki itu
Setelah melakukan sholat Dzuhur,
perasaan hati Putri menjadi lebih tenang dibanding sebelumnya, dan ini perasaan
yang sudah lama tidak ia dapatkan sebelumnya. “heyy, tadi aku melihat sebuah
foto dikamar kamu, aku melihat seorang anak dengan ibunya, itu siapa ?”, Tanya Putri kepada lelaki itu,
lelaki itu tersenyum namun matanya
terlihat berkaca-kaca, Putri terlihat bingung dengan lelaki itu, “dand kamu
kenapa, aku salah ngomongya”, kata Putri, “oh ngga ko, kamu ga salah. Jadi foto
yang kamu lihat tadi, itu fotoku dengan ibuku saat aku masih kecil, aku masih
ingat semua kenangan itu, sampai aku benar-benar mengecewakanya dan membuanya
jatuh sakit, dan semuanya berjalan begitu cepat, dia meninggalkanku untuk
selamanya, sampai sekarang perasaan penyesalan itu masih ada dalam diriku, aku
masih belum bisa membahagiakanya. Jadi selama kamu masih memiliki ibu,
sayangilah dia dengan sepenuh hatimu, karena jika kau belum membahagiakanya dan
telah kehilanganya, maka kau akan menyesal sejadi-jadinya”, kata lelaki itu,
Dandy pun menceritakan semuanya, sesekali air mata lelaki itu pun jatuh
membasahi sejadah di mana dia selalu bersujud meminta ampunan atas segala apa
yang dilakukanya selama ini.
Putri terlihat terharu mendengar
cerita Dandy, dia jadi teringat akan ibunya, “aku harus pulang sekarang, aku
harus pergi menemui ibuku, dia pasti mengkhawatirkanku saat ini”, kata Putri
dengan cemasnya, “iya Putri, kamu harus tenang, kamu belum pulih, aku akan
antar kamu kerumahmu, sekarang kamu harus tenang oke”, kata Dandy sembari menenangkan
Putri. Akhirnya mereka berdua pun pergi menuju rumah Putri, sesampainya disana,
Putri langsung berlari menuju pintu rumahnya, diketuklah pintunya, sesaat
kemudian, munculah sesosok wanita, yang tak lain adalah ibunya sendiri, ibunya
sangat terkejut melihat Putri, begitupun sebaliknya, wajah Putri terlihat
sangat merindukan ibunya, putri pun memeluk ibunya dengan sangat erat, ibunya
bingung dengan apa yang dilakukan Putri, tidak seperti biasanya Putri memeluk
ibunya, “buu… Putri minta maaf ya bu”, kata Putri kepada ibunya dengan
berlinang air mata, “tidak apa-apa nak, ibu tau kamu pasti sedih dan kecewa
setelah kita berdua ditinggal ayah”, kata ibu Putri untuk menenangkanya, “dan
Putri juga tidak mau kehilangan orang yang putri sayangi untuk kedua kalinya”,
kata Putri dengan berlinang air mata
“Putri..lelaki itu siapa ?”, Tanya
ibu Putri kepadanya, Putri pun menjawabnya, “oh..lelaki itu, dia yang sudah
menolongku kemarin bu”, “menolong kamu kenapa, memangnya kamu kenapa put”, Tanya
ibunya dengan penuh kekhawatiran, “iya bu, nanti aku ceritain semuanya ko bu”,
akhirnya mereka pun masuk kedalam rumah, begitupun dengan Dandy, didalam sana
mereka menceritakan segalanya, sesekali wajah ibu Putri terlihat terkejut,
setelah melakukan perbincangan yang cukup lama, mereka pun menyudahi
pembicaraan mereka, dan Dandy pun pamit untuk pulang, “Dandy..kita kapan untuk
bertemu lagi” kata Putri kepada Dandy, “Tenang saja, kita akan bertemu lagi, entah
kapan entah dimana, hanya ALLAH yang tahu”, kata lelaki itu kepada Putri dengan
senyumananya yang sungguh menenangkan
Setelah pertemuan itu, Putri
berubah menjadi muslimah yang jauh lebih baik dari sebelumnya, namun setelah
itu, Putri tidak pernah bertemu lagi dengan lelaki itu, hanya do’a yang dia
panjatkan untuk bisa bertemu dengan lelaki yang bisa membuatnya hingga seperti
ini. entah kapan dan dimana, selama kita masih berada di bawah langit yang
sama, waktu dan jarak tidak masalah, kita akan bisa bertemu, walaupun hanya bertemu
lewat do’a.





Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances